Sajadah Kiai (Catatan Ulang Tahun Pengasuh)

Semua Kiai punya ciri khas tersendiri. Entah dalam cara mengajar, berpidato, sampai cara mereka berjalan sekalipun. Namun intinya sama. Segala aktifitas mereka pasti didasari ilmu.

Adalah KH Salahuddin Wahid, pengasuh pesantren Tebuireng, salah satunya. Ketika memberikan mauhidzah hasanah ada yang berbeda dengan sosok putra Kiai Wahid ini. Tak jarang beliau selalu menukil sebuah cerita atau pengalaman beliau dalam pidatonya. Dan, ternyata para hadirin sangat antusias mendengarkan tanpa bosan. Isi dari ceramah beliaupun lain dengan kebanyakan kiai. Beliau lebih memilih mengambil tema habl min al nas alias hubungan sesama manusia.

Menurut beliau, ibadah kita kepada Allah sudah sangat bagus. Hanya saja ibadah dalam artian sosial kepada manusia perlu ditingkatkan. Seperti zakat. Beliau selalu menekankan untuk bergaul sesopan mungkin sesama manusia dan saling kasih sayang. Mengingat Rasulullah diutus di muka bumi ini pun dengan tujuan li utammim makarim al akhlaq (menyempurnakan akhlaq).

***
Seuatu ketika saya dengan seorang kawan disuruh menemui beliau di ndalem (rumah penagsuh). Kami disuruh mengcopy tulisan beliau dari laptopnya untuk dikirimkan ke sebuah media (ketika itu koneksi internet di ndalem agak error. Kami disuruh mengirimnya lewat warnet terdekat). Tiba-tiba ada seorang kakek tua masuk ingin menemui beliau. Dengan sangat ramahnya Gus Solah melayani tamu tersebut.

Sang kakek bercerita kalau putrinya tengah hamil tua. Suaminya tidak mampu membayar lunas administrasi untuk persiapan melahirkan, sedangkan rumahnya ditimpa angin lebat hingga roboh sebagian. Tanpa pikir panjang, Gus Solah berujar “Sebentar”. Lantas masuk ke kamar dan segera kembali dengan membawa amplop tebal. “Ini ada sedikit rezeki untuk keluarga Bapak, semoga bermanfaat,” ucap beliau yang langsung diterima oleh kakek itu haru.

Ada banyak suri tauladan yang dicontohkan beliau kepada santri Tebuireng. Dalam hal kebersihan dan kedisiplinan tidak terhitung. Kalau beliau keliling pondok (biasanya didampingi ibu Nyai di pagi hari) kok menemukan sampah berserakan maka tak segan beliau memungutnya.

Begitu juga dalam beribadah, ketika hendak salat di masjid beliau selalu membawa sajadah sebagai alas sujud. Sesampainya di masjid, beliau mencari orang yang tidak membawa sajadah. Lalu sajadah itu digelar bukan untuk sendiri. Akan tetapi orang yang di sebelahnya pun diberi bagian sajadah tersebut meskipun hanya menampung dua kening dan empat tangan. Jadi, siapa yang ingin bersebelahan dengan Gus Solah dapat disiasati: KE MASJID TIDAK USAH MEMBAWA SAJADAH!!! Tapi jangan dikira mudah. Biasanya santri yang sengaja melakukan hal ini justru tidak diberi gelaran sajadah oleh beliau.

Kemarin tanggal 11 September, beliau Ulangtahun untuk yang ke-67 kalinya. Kebetulan saya tidak sedang di pondok. Kata seorang teman, beliau mengadakan tasyakuran di pondok. Santri dan pengurus diberi berkat dari beliau. Mendengar hal ini ada seorang santri yang berkelakar “Wah, seandainya bapak Pengasuh kita ulangtahun setiap hari, enak banget ya bisa dapat berkah dan berkat terus….” Kami hanya terseyum mendengarnya.

Wahai Dzat,
Dimana keagungan ada di tanganMu
Kami memohon sebuah permohonan
Terucap dalam susunan kalimat:

Berikan kesehatan dan kekuatan
Kepada semua Guru kami
Agar mereka senantiasa menemani kami
Dalam merajut RidhaMu setiap hari

sumber : facebook Fathurrahman Karyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: