Praktik Ponari ada Yg Sembuh & ada Yg Tidak Sembuh

Banyak Mengaku Sembuh Setelah Minum Air Celupan, Banyak Juga yang Tak Ada Perubahan
Benarkah mereka yang minum air yang dicelupi batu milik dukun cilik Ponari bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya? Pertanyaan itu masih kerap muncul di benak beberapa masyarakat. Apalagi, sejak fenomena Ponari membuat Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, Jatim, dipenuhi pengunjung yang mayoritas orang sakit.

Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) yang blusukan ke antrean “pasien” Ponari seminggu terakhir menemukan, memang tidak sedikit orang yang mengaku sembuh setelah meminum air yang dicelup batu milik Ponari. Namun, banyak juga yang mengaku tak ada perubahan.

Seperti pengakuan Musali, 60, warga Ngoro, Jombang. ”Sudah lima tahun saya lumpuh total. Tetapi, setelah meminum air dari Ponari, saya bisa berjalan kembali. Bahkan, saya mengantre sendiri untuk mendapatkan pengobatan kedua,” ungkap Musali saat bertemu Radar Mojokerto di dalam antrean menuju tempat praktik Ponari, beberapa waktu lalu.

Hal yang sama diungkapkan Sumardi, 58, warga Bojonegoro. Kemarin Sumardi kembali mendatangi lokasi praktik Ponari meski sudah ada pengumuman ditutup. Sumardi mengaku, sejak setahun terakhir dirinya menderita stroke. Untuk berjalan saja dia sangat kesulitan. Tapi, setelah mendapatkan air yang dicelupi batu Ponari seminggu lalu, Sumardi mengaku kuat berjalan kembali. Untuk itu, dia kembali datang bersama sanak keluarga yang menderita sakit. ”Saya kira Ponari memang diberi kelebihan oleh Tuhan,” ungkap Sumardi yang datang bersama Rudi, 30, keponakannya.

Sama halnya dengan yang dialami Haji Nawawi asal Jombang. Nawawi mengaku sembuh dari penyakit linu tulang yang sudah tiga tahun dideritanya. Selama tiga tahun itu, Nawawi sudah keluar masuk ruang dokter dan rumah sakit. Termasuk menjalani rontgen lima kali. Oleh dokter, Nawawi didiagnosis menderita penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis). Namun, dari berbagai obat yang ditelannya, tetap saja tidak membuat Nawawi sembuh. Setelah mengonsumsi air yang dicelupi batu Ponari, dia mengaku penyakitnya langsung hilang. ”Saya bisa main tenis sampai dua set. Sakit itu tidak pernah saya rasakan lagi,” ungkapnya.

Nawawi bahkan membantah jika kesembuhannya hanya sugesti. Sebab, selama berobat ke dokter dan rumah sakit, dia juga terus memiliki sugesti akan sembuh. Tetapi, pada kenyataannya, dia tetap saja merasakan sakit.

Selain cerita “sukses” itu, banyak juga orang yang mengaku tidak ada perubahan setelah meminum air dari Ponari. Antara lain Ismail Marzuki, 55, warga Desa Sawiji, Jogoroto, Jombang, yang menderita batuk menahun dan penyakit asam urat. Ketika meminum air dari Ponari itu, dia mengaku telah memiliki keyakinan untuk sembuh. Sayangnya, hingga dua minggu kemudian, tetap tidak ada perubahan.

Begitu pula Khomsatun, 52, warga Jombang, yang menderita ngilu persendian. ”Saya percaya jika Ponari memiliki kelebihan. Tetapi setelah meminum air itu, penyakit saya tetap tidak sembuh,” ungkap Khomsatun.

Selain itu, dua warga Dusun Kedungsari, Jombang, yang menderita gangguan jiwa, juga tidak sembuh setelah meminum air dari Ponari. Keduanya adalah Luluk Jamilah, 30, dan Sutomo, 28, yang sebelumnya sudah dimintakan air oleh keluarganya.

Sutomo yang selama ini tinggal di rumah gedek kecil bersama saudaranya, diketahui belum ada perubahan. Satini, tetangga dekat Tomo, mengaku masih mendengar pria itu berteriak-teriak, seperti sebelum pengobatan. Sedangkan Jamil, ayah Luluk, mengatakan, sempat ada perubahan sehari setelah putrinya meminum air tersebut.

Luluk yang sebelumnya selalu mengurung diri, mendadak mengajak ayahnya berjalan-jalan keluar rumah. Dia juga menyapa para tetangga, layaknya gadis normal. Namun, perubahan itu hanya berlangsung sehari. ”Keesokan harinya hingga kini, anak saya kembali seperti semula,” ungkap Jamil.

Amal Setengah Miliar

Selain keampuhan pengobatannya, fenomena dukun cilik Ponari memunculkan rasa penasaran apakah pengobatan itu dijadikan lahan bisnis, yang bisa berimbas pada eksploitasi bocah yang masih kelas III SD itu.

Meski tidak memungut biaya sepeser pun, terlihat panitia yang terdiri atas keluarga dan warga setempat menyediakan kotak amal tepat di depan rumah orang tua Ponari. Menurut salah satu warga, belum satu bulan, kotak amal itu sudah menghasilkan uang lebih dari Rp 300 juta. ”Saya sendiri ikut menghitung. Jumlahnya kurang lebih Rp 328 juta,” ungkap Mbah Senen, tokoh desa setempat, yang ikut ”mengelola” keuangan di tempat praktik Ponari.

Penuturan Mbah Senen itu bukanlah mustahil. Bahkan, jumlah uang yang masuk ke kotak amal itu jauh lebih besar. Dengan asumsi praktik dukun Ponari 10 hari saja, uang yang dikumpulkan dari kotak amal bisa mencapai setengah miliar rupiah.

Perhitungan kasarnya, setiap hari pengunjung praktik Ponari bisa mencapai 10 ribu orang. Jika setiap pengunjung rata-rata mengamalkan Rp 5 ribu saja, setiap hari sudah terkumpul Rp 50 juta. Dengan perhitungan pemotongan hari praktik karena libur dan penutupan sementara oleh polisi, jika dikalikan sepuluh hari, uang di kotak amal itu bisa mencapai Rp 500 juta alias setengah miliar rupiah.

Memang, ada biaya memasak makanan untuk seluruh panitia dan petugas pengamanan. Tetapi, jumlahnya tidak seberapa, hanya Rp 200 ribu sampai 300 ribu per hari. ”Uang dari kotak amal itu sepenuhnya hak Ponari dan keluarga. Tidak ada orang lain yang berhak atas uang tersebut,” ujar Mbah Senen seraya menambahkan bahwa dia sendirilah yang menyimpan uang tersebut ke salah satu bank di Jombang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: