KH. Hasyim Asy’ari

“Ini saudara Saifudin dari Banyumas, seorang pemimpin Ansor di daerahnya” kata KHA Wahid Hasyim dalam bahasa Jawa (Kromo) sambil mencium tangan ayahandanya. Tentu saja setelah memberikan salam : Assalamu’alaikum wr.wb. aku pun ikut mencium tangan Hadlratus Syaikh. Di kalangan pesantren dan khususnya di kalangan NU jarang sekali orang menyebut nama K.H. Hasyim Asy’ari. Sebutan yang lazim ialah Hadlratus Syaikh, yang artinya yang mulia tuan guru.

Ahlan wa marhaban! Ahlan wa sahlan !” sambil menatap wajahku dalam kasih sayang, sementara tangannya masih aku cium. Kata-2 ahlan wa marhaban, ahlan wa sahlan, biasa diucapkan berulang-ulang yang menunjukan keterbukaan hati dan suka cita. Artinya sebuah kata2 selamat datang.

“Apa kabar Ananda Saifuddin ? Saya diminta dimaafkan bahasa melayu, eh bahasa Indonesia saya kurang sempurna” kata2nya sekaligus memberikan kesan bahwa orang besar ini amat jujur dan memperlihatkan wibawanya. Tidak merasa malu mengeai kekurangannya, padahal itu memperlihatkan sifatnya yang tawadlu (rendah hati).

“Apakah Ananda pernah juga belajar di pondok ini? Di pondok mana?” Hadlratus Syaikh menanyakan kepadaku apakah aku pernah belajar di pesantren Tebuireng. Di pondok yang mana? Artinya berdiam di kompleks yang mana? Dalam pesantren Tebuireng seluas kira2 30.000m2 itu dibagi menjadi beberapa kompleks: Gresik, Malang, Kediri, Banjarnegara dan sebagainya. Santri2 yang datang dari daerah Banyumas pada umumnya menempati kompleks Banjarnegara.

“Saudara Saifuddin ini dulu belajar di pesantren Jamsaren Solo” K.H.A. Wahid Hasyim cepat menjelaskan sebelum aku sempat menjawab. Orang ini cepat menangkap situasi bahwa aku mengalami kesulitan menjawab. Kalau menjawab apa adanya bahwa aku pernah belajar di Tebuireng, jawaban demikian mungkin akan sedikit mengecewakan hatinya, dan akan lebih senang seandainya aku pernah belajar di tebuireng.

“Masya Allah … ada santri Jamsaren koq menjadi Nahdloh, … Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah” demikian tanggapan Hadlaratus Syaikh atas jawaban K.H.A. Wahid Hasyim, sambil tak henti2nya mengucapkan Alhamdulillah. Kalau Hadlartus Syaikh memperlihatkan sambutannya sebagai tasyakur, hal itu dapat dimaklumi. Pada jaman itu pesantren Jamsaren termasuk lambang “Islam modern” dan sebagian besar santrinya dimasyhurkan mewakili golongan Reformis Islam. Padahal itu cuma propaganda yang ditiup2kan oleh golongan tertentu, kenyataannya tidaklah demikian. Banyak juga santri jamsaren yang mewakili golongan “kolot” yang lazim disebut beraliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Hadlaratus Syaikh memperlihatkan kepada K.H.A Wahid Hasyim sepucuk surat dalam bahasa Arab yang dikirim oleh K.H. Raden Asnawi Kudus. Dengan menggunakan bahasa Arab yang amat sempurna. Hadlartus Syaikh memperlihatkan kepada putranya bagian2 yang diarasa amat berat. Hadlaratus Syaikh biasa berbicara kepada putranya dalam bahasa Arab, tetapi sebaliknya K.H.A. Wahid Hasyim melayani pembicaraan ayahandanya dalam bahasa Jawa yang halus (kromo Hinggil). Bukan karena bahasa Arab K.H.A. Wahid Hasyim kurang sempurna, tetapi untuk memperlihatkan sikap tawadlu (rendah hati) kepada orangtuanya. Apalagi kalau ada orang ketiga atau keempat. Hadlaratus Syaikh mengalihkan percakapannya kepada dengan memperlihatkan sepucuk surat.

“Sauadara Saifuddin, saya baru menerima sepucuk surat dari guru saya yang mulia Kiai Raden Asnawi Kudus. Ini dia suratnya”. Diperlihatkan kepadaku, tetapi aku pasif saja. Aku merasa kelewat kecil untuk melibatkan diri dengan kedua ulama besar itu. Karena itu aku cuma menanggapinya dengan “inggih, inggih” seperti yang dilakukan oleh K.H.A. Wahid Hasyim. Hadlaratus Syaikh meneruskan bicaranya :

“Aku merasa susah sekali, karena Kiai raden Asnawi guru saya itu marah kepada saya. Sebabnya? Karena saya mengizinkan terompet dan gederang yang dipergunakan oleh anak2 kita, Ansor NU, padahal Kiai raden Asnawi mengharamkannya” Hadlratus Syaikh lalu bercakap2 sendiri dengan K.H.A. Wahid Hasyim dalam bahasa Arab. Aku cuma mendengarkan saja. Dalam percakapan itu, Hadlaratus Syaikh meminta pertimbangan putranya, apakah tidak sebaiknya surat tersebut dijawab dengan lemah lembut dan akan disampaikan lewat kurir. Dengan demikian diharapkan masalah yang diperselisihkan dua ulama besar itu masih diselesaikan sebelum muktamar Surabaya dibuka.

Selama Hadlaratus Syaikh bercakap2 dengan putranya aku amat terpesona akan profil ulama besar ini. Usianya ketika itu, 5 Desember 1940 mendekati 70 tahun, karena dilahirkan pada hari Selasa Kliwon 24 Dzulqo’dah 1287 atau 14 februari 1871. Bicaranya amat jelas dan jelas pula sasarannya. Sikapnya ramah tamah, air mukanya jernih dan selalu menyenangkan hati para tamunya. Tak jarang Hadlratus SYaikh melayani sendiri para tamunya dengan membawa makanan dan minuman yang dihidangkan. meskipun ada pelayan khusus yang melayani sang tamu, namun Hadlaratus Syaikh tidak mau ketinggalan menyodorkan hidangan di (hadapan) sang tamu. Sikapnya terhadap sesama ulama sangat hormat, meskipun kepada yang lebih muda.

_________________________

Dikutip dari buku Berangkat Dari Pesantren : KH Saifuddin Zuhri, terbitan Gunung Agung, tahun 1984. hal 159-160,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: