Golput di Surabaya Menduduki Peringkat Teratas

MINAT masyarakat Surabaya untuk berpartisipasi dalam putaran kedua pilgub Jatim terbukti rendah. Berdasar hitungan akhir KPU Jatim kemarin (11/11), jumlah golput di kota ini melebihi perolehan suara Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) ataupun Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji). Golput di Surabaya bahkan menduduki peringkat pertama jika dibandingkan dengan wilayah lain.

Secara rinci, penghitungan suara yang berlangsung di Hotel Mercure kemarin menyebutkan bahwa Surabaya masih dikuasai duet Kaji. Mereka berhasil mendapatkan 456.236 suara warga metropolis (52,48 persen suara sah). Sementara itu, duet Karsa hanya bisa meraup simpati 413.065 suara atau sekitar 47,52 persen suara sah.

Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil penghitungan beberapa lembaga survei. Misalnya, hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia di Surabaya. Dari penghitungan cepat yang mereka lakukan, Kaji unggul karena memperoleh dukungan 52,85 persen, sedangkan Karsa 47,15 persen (beda 0,37 persen).

Penghitungan yang dilakukan desk pilkada pemkot juga nyaris sama. Kala itu mereka menghitung, Kaji memperoleh 454.487 suara (52,17 persen) di Surabaya, sedangkan Karsa 416.650 suara (47,83 persen).

Kemenangan Kaji di Surabaya membuktikan bahwa Kota Pahlawan masih menjadi basis PDIP. Pada pilgup putaran pertama, suara terbanyak diraih duet PDIP Sutipto-Ridwan Hisjam. Karena kalah penghitungan akumulasi se-Jatim, PDIP memberikan dukungan kepada Kaji pada putaran kedua.

Catatan menarik dari penghitungan suara di Surabaya adalah tingginya angka golput. Dari total 2.103.125 warga yang tercatat dalam daftar pemilih, hanya 912.766 di antaranya atau 43,4 persen yang menyalurkan suara. Dengan kata lain, golput di kota ini sebanyak 56,6 persen.

Selain Surabaya, tingginya jumlah golput ditemui di empat daerah lain. Yakni, Trenggalek (52 persen), Jember (52,1 persen), Nganjuk (51,2 persen), dan Tuban (51,9 persen). Sedangkan di daerah lain, rata-rata angka golput berkisar antara 27 sampai 49 persen.

Mengapa itu bisa terjadi? Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Jatim Dadan Suharmawijaya menjelaskan, ada banyak faktor yang mengakibatkan warga Surabaya memilih golput. Pertama, banyak penduduk yang tidak mendapatkan undangan untuk memilih atau kartu pemilih bagi pemilih baru. “Selain itu, ada kebosanan masyarakat terhadap pemilu yang begitu sering dilakukan. Sedangkan masyarakat tidak melihat adanya perubahan signifikan dari pemilu tersebut,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: