Gus Sholah: Pelajaran dari Pilgub Jatim

Hasil quick count sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa dalam pilgub Jatim putaran II, pasangan Kaji unggul tipis atas pasangan Karsa. Hasil itu mengejutkan karena hasil survei sejumlah lembaga survei selama ini menunjukkan bahwa Karsa akan menang. Tampaknya perolehan suara Kaji itu tidak lepas dari dukungan terbuka oleh Megawati sekitar dua minggu sebelum hari pemilihan.Sekarang belum bisa ditentukan siapa yang akan menjadi gubernur Jawa Timur 2008-2013, karena harus menunggu perhitungan langsung terhadap kartu pemilih. Dengan selisih yang tipis itu, masih ada kemungkinan bahwa Soekarwo akan keluar menjadi pemenang.

Kita tentu berharap tidak terjadi kecurangan dalam perhitungan kartu suara itu, walaupun kita mendengar bahwa dalam banyak kasus pilkada terjadi kecurangan yang sulit dibuktikan.

Kita berharap saksi kedua pasangan meliputi seluruh TPS sehingga kecurangan dapat ditekan serendah mungkin. Siapa pun yang menang, kita harap tidak ada keributan antar pendukung cagub seperti yang terjadi di Maluku Utara.

***

Sejumlah pelajaran dapat kita ambil dari pilgub Jawa Timur ini. Pertama, sekali lagi terbukti bahwa peran partai tidak terlalu menentukan. Walaupun suatu partai mendukung calon tertentu, warga partai itu belum tentu mengikuti pilihan partai itu. Partai Golkar terlalu mudah dan terlalu cepat mengambil keputusan memilih Soenarjo dan Ali Maschan yang belum tentu layak jual.

PKB terlambat memilih dan pilihannya salah lagi. Tampaknya PKB kurang memahami ABC-nya memilih calon gubernur, atau pertimbangannya memang bukan layak jual, integritas, dan karakter serta kemampuan si calon. Elektabilitas si calon (yang diperoleh dari survei) tampaknya tidak dijajaki. Dalam memilih calon bupati, PKB di Jatim dan Jateng cukup banyak yang berhasil, walaupun sebenarnya bisa lebih banyak lagi.

Kedua, walaupun ada peran berarti dari Megawati dan struktur NU serta partai pendukung, harus diakui bahwa keberhasilan Khofifah terutama didukung warga Muslimat NU di Jawa Timur. Dalam NU, Muslimat NU adalah badan otonom yang paling rapi organisasinya. Anggotanya tersebar merata sampai ke tingkat desa. Kegiatannya di Jatim sangat banyak, mulai pengajian rutin, mendirikan TK, panti asuhan, klinik/RB/RS, dan koperasi.

Istri saya, salah satu ketua PP?Muslimat NU, menceritakan bagaimana militansi dan perjuangan warga Muslimat NU dalam perjuangan memenangkan Kaji dengan uang mereka sendiri. Tanpa menggerakkan mesin Muslimat NU, tidak mungkin Kaji memperoleh suara sebanyak sekarang.

Ketiga, ketidakmampuan tokoh-tokoh NU Jatim dan tingkat nasional (struktural, kultural, dan tokoh partai) untuk mencari tokoh NU yang memenuhi syarat (kapabilitas, integritas, elektabilitas), lalu disepakati dan didukung bersama sebagai satu-satunya calon gubernur Jatim. Ternyata tokoh-tokoh NU tidak mampu belajar dari pengalaman serupa yang dimulai dari pilpres 2004.

Potensi NU dalam bentuk jumlah warga yang amat besar tidak mampu dimanfaatkan karena sulit bekerja sama. Hal ini juga terlihat dalam upaya memanfaatkan potensi di bidang lain, seperti pendidikan dan ekonomi. Kondisi semacam ini tidak terlepas dari fitrah NU yang merupakan gabungan dari banyak pesantren dan kiai, yang masing-masing mandiri. Mereka tidak terlatih dan tidak terbiasa bersinergi dalam lingkup yang luas.

Keempat, ketidakmampuan tokoh dan organisasi NU dan badan otonom (Muslimat NU dan Ansor) untuk menyamakan persepsi dan penafsiran tentang khithah NU yang salah satu substansi dasarnya ialah melepaskan jamiyah NU dari kegiatan politik praktis.

Wawancara Rais Aam PB NU KH Sahal Mahfudz di majalah Tempo edisi akhir September 2008, menunjukkan tingkat keseriusan masalah itu. Kalau NU sebagai organisasi tidak mampu merumuskan tafsir yang jelas (yang tidak bisa ditafsirkan macam-macam) dan bersifat mengikat, pada Muktamar 2009, sungguh itu bencana dan ancaman bagi masa depan NU, dan juga masyarakat sipil Indonesia.

Kelima, ternyata angka golput amat tinggi, mencapai sekitar 46 persen. Sejumlah kawan menyatakan bahwa tingginya angka itu, antara lain, karena kelima pasangan cagub tidak ada yang mempertanyakan kebijakan pemerintah yang lebih mementingkan Lapindo ketimbang korban lumpur.

Keenam, walaupun paling akhir muncul sebagai cagub, tetapi karena mempunyai potensi -kemampuan, dukungan Muslimat NU, dukungan struktur NU, dan dukungan Megawati- Khofifah bisa menandingi Soekarwo yang telah bergerak mengejar kursi gubernur Jatim sejak dua tahun lalu. Apakah fenomena ini akan terjadi juga pada pilpres 2009?

Saat ini kita melihat banyak pemilih dan pendukung SBY kecewa terhadap pilihan mereka itu dan mungkin akan menjadi golput. Kalau pada 2004, ada semacam sikap “asal bukan Mega”, masih ada alternatif yaitu SBY. Kini kalau muncul sikap “asal bukan SBY”, siapa yang akan menjadi alternatif? Kalau tokoh alternatif itu tidak ditemukan, angka golput bisa meningkat. (*)

3 Tanggapan

  1. Siapa yang menang dalam Pil Gub kali ini?

  2. saya setuju sekali dengan Jenengan, kita orang biasa dalam artian bukan orang birokrat yang kita bisa hanya mendo’akan dengan harapan mudah-mudahan pemimpin yang terpilih nanti pemimpin yang benar-benar kredibel dalam memimpin dan yang terpenting bisa adil juga amanah dan tak lupa bisa ngayomi masyarakat yang dipimpinnya. what do you think?

  3. kalau menurut sependek pengetahuan saya, yang baik seorang Kyai selain ‘Alim dalam bidang Agama juga harus bisa ilmu politik, mungkin yang jadi persoalan sebaliknya “Kyai tidak ‘Alim dalan bidang Agama dan terjun ke politik praktis akhrinya santrinya terlupakan. kita bantu do’a yuk, mudah-mudahan Kyai kita memprioritaskan santri daripada politik yang penuh banyak godaan. afwan baru balas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: